Yayasan Penerus Jaga Laut Indonesia Perkuat Bank Mangrove Indonesia untuk Pemberdayaan Perempuan Pesisir di Balikpapan Timur
Yayasan Penerus Jaga Laut Indonesia terus memperkuat peran Bank Mangrove Indonesia sebagai instrumen strategis pemberdayaan masyarakat pesisir yang inklusif dan berkelanjutan, khususnya bagi kelompok masyarakat rentan di wilayah Balikpapan Timur. Inisiatif ini difokuskan pada peningkatan kapasitas ekonomi, keterampilan, dan peran sosial lebih dari 50 masyarakat pesisir, yang mayoritas merupakan perempuan pesisir.
Selama ini, struktur mata pencaharian masyarakat pesisir masih menunjukkan kesenjangan peran berbasis gender. Kaum laki-laki umumnya terlibat dalam pekerjaan fisik di laut, seperti menangkap ikan atau mengikat tali rumput laut di perairan terbuka. Sementara itu, perempuan pesisir cenderung berperan sebagai tenaga pendukung di darat, dengan ruang partisipasi ekonomi yang terbatas serta minim akses terhadap sumber pendapatan alternatif yang berkelanjutan.
Melalui penguatan Bank Mangrove Indonesia, Yayasan Penerus Jaga Laut Indonesia menghadirkan model ekonomi alternatif berbasis alam (Nature-based Solutions/NbS) yang membuka peluang baru bagi perempuan pesisir untuk berkontribusi secara aktif dalam ekonomi keluarga. Salah satu pendekatan utama yang diterapkan adalah pemanfaatan bibit mangrove alami yang jatuh di kawasan ekosistem mangrove atau terdampar di sepanjang garis pantai. Bibit-bibit tersebut kemudian dikumpulkan, diseleksi, dan dikelola secara berkelanjutan untuk mendukung kegiatan rehabilitasi mangrove.
Program ini tidak hanya memperluas akses ekonomi, tetapi juga memperkuat peran masyarakat sebagai penjaga ekosistem pesisir. Tim sumber daya manusia Yayasan Penerus Jaga Laut Indonesia memberikan pendampingan berkelanjutan, pelatihan teknis, serta peningkatan pengetahuan kepada masyarakat pesisir mengenai fungsi ekologis mangrove, teknik pembibitan, pengelolaan kawasan, serta praktik konservasi yang ramah lingkungan.
Melalui proses ini, masyarakat—khususnya perempuan—tidak hanya memperoleh tambahan pendapatan, tetapi juga terlibat langsung dalam upaya perlindungan ekosistem laut dari ancaman sampah dan tekanan aktivitas manusia. Bibit mangrove yang dikelola selanjutnya ditanam kembali sebagai bagian dari aksi rehabilitasi pesisir, konservasi keanekaragaman hayati, serta penguatan ketahanan ekosistem terhadap dampak perubahan iklim.
Pada tahun 2025, penguatan Bank Mangrove Indonesia semakin diperluas melalui dukungan program Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH). Melalui dukungan ini, Bank Mangrove Indonesia mengembangkan program pelatihan pembibitan mangrove jenis berbuah, yang tidak hanya berfungsi untuk rehabilitasi ekosistem, tetapi juga diarahkan sebagai upaya awal penciptaan ketahanan pangan berbasis keanekaragaman hayati lokal di wilayah Balikpapan.
Program ini mendapat respon dan dukungan positif dari berbagai pemangku kepentingan, antara lain perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur, RT 08 Kelurahan Karingau, SMP Negeri 21 Balikpapan, mitra usaha KRN, serta masyarakat pesisir—khususnya perempuan—sebagai peserta utama kegiatan. Keterlibatan multipihak ini memperkuat pendekatan kolaboratif dan memastikan keberlanjutan program dalam jangka panjang.
Inisiatif penguatan Bank Mangrove Indonesia ini sejalan dengan prinsip-prinsip Forest Carbon Partnership Facility (FCPF), yang menekankan keterkaitan antara pengurangan emisi berbasis lahan, peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal, serta penerapan keadilan sosial dan kesetaraan gender. Dengan pendekatan partisipatif dan berbasis komunitas, Yayasan Penerus Jaga Laut Indonesia mendorong terwujudnya model pemberdayaan pesisir yang tidak hanya berorientasi pada konservasi lingkungan, tetapi juga pada keberlanjutan ekonomi, ketahanan sosial, dan inklusivitas jangka panjang.
